Wayang Golek Media Art & Handy Craft, Tembus Pasar Eropa

Seputar Bogor

SeputarBogor.id Zaman boleh berganti, kecanggihan teknologi juga kian hari semakin merajai. Namun kerajinan tangan yang satu ini sedikitpun tak pernah berhenti diproduksi oleh mereka para pelestari seni budaya.

Hal inilah yang diwariskan secara turun-temurun oleh Entang Sutisna kepada empat anaknya di Sanggar Golek berukuran 185 meter persegi (m2) yang diberi nama Media Art & Handy Craft.

Terletak di sebelah barat Kota Bogor, tepatnya di Kampung Sirnagalih, Kelurahan Loji, setiap harinya tangan-tangan terampil mereka dengan cekatan meraut dan membentuk satu-persatu karakter wajah tokoh pewayangan.

Dari Pandawa hingga Kurawa dibentuk semirip mungkin hanya dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana serta bantuan cahaya seadanya.

Entang mengawali keahliannya dalam membentuk karakter wayang sejak tahun 1963. Sebanyak 300 karakter sudah dihapalnya dengan sempurna.

Setiap guratan tokoh yang dia gambar pada batangan kayu seolah menjadi bukti bahwa Entang adalah seniman sejati yang benar-benar mencintai seni budaya Sunda khususnya wayang golek.

Menurut Entang, saat ini wayang golek sudah semakin terkikis oleh kuatnya kemajuan teknologi dan ragam permainan anak, berbeda dengan 15 tahun ke belakang. Namun dengan usaha keras dan tekadnya yang besar, semua itu bisa dia sikapi tanpa ada rasa khawatir.

Bersama anak pertamanya, Enday, yang juga sangat serius ingin melestarikan dan memperkenalkan wayang golek ke berbagai belahan dunia. Akhirnya Enday memutuskan untuk berhenti bekerja dan fokus pada wayang.

Terbukti beberapa tahun kemudian usaha keras Enday membuahkan hasil. Setiap harinya turis dari berbagai negara mulai berdatangan ke sanggar mereka.

Cukup dengan 30 sampai 50 Euro saja para turis tersebut bisa membawa berbagai karakter tokoh pewayangan sambil menyaksikan dan belajar langsung bagaimana rumitnya proses pembentukan wayang golek.

“Saat ini golek yang kami buat sudah semakin diakui keberadaanya, bahkan sudah sampai ke negara Belanda, Belgia, Jerman dan Polandia yang jauh di Eropa Timur.

Semua statsiun TV sudah sering meminjam properti kami sebagai pelengkap acara, dan Alhamdulillah sudah banyak juga sekolah-sekolah yang memanggil saya sebagai rekan mengajar dalam mata pelajaran seni budaya,” ujar Enday bangga.

Selain itu, dalam satu minggu berbagai komunitas muda selalu hadir ke Sanggar Golek Media Art & Handy Craft. Entah itu sekedar belajar membuat golek atau hanya untuk sekedar ingin tahu cara pewarnaan para tokoh pewayangan tersebut.

“Biasanya mereka datang satu rombongan, dari sanggar ini buka sampai sanggar ini tutup mereka dengan cekatan mengasah keterampilan mereka dalam belajar,” kata Enday saat ditemui Tren Bogor belum lama ini.

Dalam satu bulan, produksi bapak dan anak ini bisa mencapai 50 wayang dengan karakter berbeda. Namun mereka juga sanggup mengerjakan 300 hingga 500 wayang dalam sebulan, tentunya dengan batuan para pekerjanya yang berjumlah 15 orang dan para pengrajin golek yang kini tersebar diberbagai wilayah Bogor yang sebelumnya juga pernah belajar pada Entang.

Untuk pasar lokal, wayang golek ini dibanderol dengan harga Rp200 ribu sampai Rp300 ribu, tergantung ukuran dan tokoh pewayangannya.

Entang menambahkan, tahun 1972 dirinya pernah mendapat pesanan dari Presiden Soeharto dan Ibu Tien yang sengaja datang secara khusus.

“Saat itu beliau memesan 120 wayang dengan berbagai karakter. Kala itu wayang tersebut saya hargai Rp1000 saja untuk satu wayangnya, dan langsung dibayar oleh sang presiden,” pungkas Entang. rz


Seputar Bogor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *